Gubernur Rudy Tegaskan Penanganan Karhutla Harus Terintegrasi
POSKOTAKALTIMNEWS, BALIKPAPAN: Gubernur Kalimantan Timur Dr H Rudy Mas’ud mengakui persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim hingga kini belum sepenuhnya selesai. Hal itu terlihat dari kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah yang masih sangat fluktuatif.
Salah satu kondisi
terparah terjadi di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), tepatnya di Sendawar. Indeks
Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 409 atau masuk kategori
berbahaya. Sementara kondisi udara di Samarinda menunjukkan perbaikan, dari
ISPU 100 menjadi 32.
Bahkan, pada 2 Oktober
2026, konsentrasi PM2,5 di Kutai Barat mencapai sekitar 740 µg/m³. Rata-rata
paparan tercatat mencapai 13,3 kali di atas baku mutu di Kutai Barat, 12,7 kali
di Kutai Timur, dan 10 kali di Mahakam Ulu.
"Karena itu, penanganan
karhutla harus lebih preventif dan terintegrasi. Begitu hotspot meningkat,
patroli dan pencegahan harus bergerak," tegas Gubernur Rudy saat membuka
Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Kalimantan Timur
Tahun 2026 di Aula Makodam VI Mulawarman, Rabu (7/10/2026).
Gubernur meminta seluruh
unsur menggunakan satu data yang terintegrasi, meliputi data hotspot, cuaca,
kualitas udara hingga kondisi kesehatan masyarakat.
Selain itu, penegakan
hukum terhadap pembakaran lahan harus diperkuat. Perusahaan perkebunan,
kehutanan dan pertambangan juga diminta memastikan kesiapan personel, peralatan
pemadam serta sumber air untuk menghadapi potensi kebakaran.
Saat ini Kaltim memiliki
kekuatan 291 personel Brigade Pengendalian Karhutla dan 301 regu Masyarakat
Peduli Api dengan total 5.867 personel. Seluruh kekuatan tersebut, menurut
Gubernur, harus benar-benar terintegrasi dalam sistem penanganan di lapangan.
"Kita jangan hanya
berbicara tentang jumlah titik api, karena ukuran keberhasilan penanganan
karhutla adalah sejauh mana masyarakat terlindungi," tegasnya.
Gubernur Rudy menegaskan,
karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan
dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Data Dinas Kesehatan
Kaltim mencatat sebanyak 13.086 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
dalam pelaporan khusus karhutla periode 27 Juli hingga 15 September 2026.
Bahkan, kasus mingguan sempat meningkat hingga 5,4 kali.
Karena itu, perlindungan
harus diprioritaskan kepada kelompok rentan, terutama anak-anak dan balita,
lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Upaya tersebut dilakukan
melalui penguatan surveilans ISPA dan pneumonia, kesiapan Puskesmas,
ketersediaan obat dan alat pelindung, serta penyampaian informasi yang
sederhana dan cepat kepada masyarakat terkait pembatasan aktivitas di luar
ruangan.
Selain ISPA, dampak
kemarau juga terlihat dari tingginya kasus diare. Tercatat 35.105 penderita
diare dengan lima kasus kematian. Ancaman penyakit lainnya yang juga perlu
diwaspadai adalah demam berdarah dengue (DBD).
"Karena itu,
karhutla, kekeringan, kualitas air dan kesehatan harus kita tangani secara
terintegrasi, bukan sektoral," tandasnya.
Dampak kemarau juga harus
diantisipasi dari sisi ketersediaan dan kualitas air. Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) telah memantau 33 titik sungai di 10 kabupaten/kota dan seluruhnya
berstatus tercemar ringan.
Menurut Gubernur, ketika
debit sungai menurun, kemampuan sungai untuk mengencerkan beban pencemar juga
semakin berkurang. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama.
Gubernur meminta BPBD dan
pemerintah kabupaten/kota segera memetakan wilayah yang rawan mengalami
kekurangan air.
Perumda Air Minum di
masing-masing daerah juga diminta memastikan kesiapan air baku dan distribusi
air bersih. Sementara Dinas Kesehatan harus mengantisipasi dampak kesehatan dan
dunia usaha ikut memberikan dukungan ketika kondisi darurat terjadi.
"Jangan sampai
pemerintah bergerak setelah masyarakat antre mengambil air. Kita harus hadir
sebelum masalah menjadi krisis," harap Gubernur.
Ia juga menegaskan setiap
keputusan yang dihasilkan dalam rapat harus memiliki target waktu, penanggung
jawab dan rencana aksi yang jelas.
"Setiap keputusan
rapat hari ini harus memiliki target waktu, penanggung jawab dan action plan
yang jelas," imbuhnya.
Mewakili Pangdam VI
Mulawarman, Irdam VI Mulawarman Brigjen Unang Sudargo menyampaikan bahwa
terdapat dua faktor utama penyebab karhutla, yakni faktor manusia dan alam.
Selain aktivitas manusia,
kondisi alam seperti fenomena El Nino yang masih berlangsung turut meningkatkan
potensi kebakaran.
Sejumlah langkah yang
disarankan antara lain penambahan embung air, penguatan armada pemadam
kebakaran (Damkar), larangan membakar, perkerasan jalan sebagai jalur
penanganan kawasan potensial kebakaran, serta meminta pemerintah daerah
menyusun rencana kontingensi bencana sesuai tipologi ancaman di masing-masing
wilayah.
Selain membahas karhutla,
rapat Forkopimda juga membahas sejumlah persoalan yang tengah dihadapi
masyarakat, termasuk ketersediaan listrik, BBM dan LPG.
Rapat yang dimoderatori
Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni tersebut dihadiri Ketua DPRD Kaltim
Hasanuddin Mas’ud, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, Karo Ops Polda Kaltim Kombes
Pol Dedi Suryadi, pejabat IKN serta sejumlah pimpinan instansi terkait lainnya.(mar)